Category : Refleksi > Note
Author ; Syamsul Arham
Date : 20 Maret 2014, 17:05:46
Hits : 2

Aisyah Pulungan"Kami tidak mengemis"

Hidup memang tidak mudah.
Hidup penuh dengan rintangan.
Hidup penuh dengan perjuangan.
Hidup harus dilalui, sekalipun dengan kenestapaan.

Seberapa banyak dari kita yang menjual kehormatannya untuk sesuap nasi.
Seberapa banyak dari kita yang membuang rasa malunya untuk mengemis.
Seberapa banyak dari kita yang menggadaikan rasa malunya untuk hawa nafsunya.
Seberapa banyak dari kita yang tidak malu untuk menjadi pengemis.

Kenestapaan bukanlah alasan untuk menggadaikan harga diri.
Kenestapaan bukanlah alasan untuk menjual kehormatan.
Kenestapaan bukanlah alasan untuk membuang rasa malu.
Kenestapaan bukanlah alasan untuk menjadi pengemis. 

Nawawi bukanlah gembel yang harus meminta-minta untuk menyambung hidup.
Nawawi bukanlah orang-tua yang telah membiarkan anaknya menjadi pengemis.
Nawawi adalah orang-tua yang telah menunjukkan tanggung-jawabnya.
Nawawi adalah orang tua-yang telah memberikan pendidikan kepada anaknya untuk menjadi orang terhormat.

Aisyah bukanlah pengemis.
Aisyah adalah wanita terhormat.
Aisyah mempunyai ayah yang mulia.
Aisyah dan Nawawi adalah kekasih Allah.

"Kami tidak mengemis"

 Jakarta, 20 Maret 2013.

 

Catatan:

Note ini merupakan refleksi dari kehidupan Nawawi (54 tahun) dan anaknya Siti Aisyah (8 tahun) yang hidup dalam kenestapaan tanpa pencaharian dan tempat tinggal.

Mereka hidup di kota Medan, di atas becak dayung yang dikayuh oleh Aisyah setiap hari untuk merawat ayahnya yang sakit paru-paru.

Dalam kenestapaan mereka, harga diri masih tersimpan dalam diri mereka. Hawa nafsu masih terkendali dalam pikiran mereka dan kehormatan masih ada pada mereka.

Nawawi yang merawat Aisyah dari usia satu tahun semenjak istrinya meninggalkan mereka, pergi entah kemana. Selama dia membesarkan Aisyah, Nawawi sudah menanamkan tata-krama dan kehormatan kepada anaknya, sekalipun mereka dalam kenestapaan yang mereka hadapi sekarang ini.

Hasil pendidikan ini, ternyata membuahkan hasil yang tiada tara nikmatnya. Dimasa tuanya yang sudah mulai sakit-sakitan tidak berdaya, dia dirawat oleh Aisyah yang baru berumur 8 tahun. Aisyah yang harus mengambil alih tanggung jawab keluarga, menjadi "ayah dan ibu" untuk ayahnya.

"Kami tidak mengemis" kata Nawawi di trotoar depan Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (19/3/2014) sore.

Ini adalah ajaran yang luar biasa yang diberikan oleh Nawawi kepada Aisyah, bagaimana menjadi orang terhormat, dengan tidak menjual harga diri hanya untuk sesuap nasi, walaupun dalam keseharian mereka dibantu oleh orang yang merasa kasihan dengan mereka.

Jadilah manusia terhormat, terhormat dimata manusia, mulia dihadapatan Allah swt.

Amin.

Post related
  • Note : Kenikmatan Cinta
  • Note: Dunia Lelaki
  • Yang Tercecer 76 : Sepuluh bayi lahir di Abysinia
  • Al-Hadist : Shahih Riyadhus Shalihin
  • Social Media