SYAARAR.COM

Fiqih Haji 6 : Haji Wanita
Ditulis oleh : Syamsul Arham
Tanggal : 08 Maret 2015, 16:05:5
Dibaca : 2

Ibadah Haji

Wanita yang tidak dapat ditemani oleh suami atau mahramnya tidak diwajibkan melaksanakan haji. Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas ra. ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah seorang wanita mengadakan perjalanan kecuali bersama mahramnya." Seorang laki-laki berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah saw.! Sesungguhnya isteriku keluar untuk haji sedangkan aku ikut bersama pasukan dalam peperangan ini dan itu." Rasulullah saw. bersabda, "Pergilah dan hajilah bersama isterimu."

Sahih Bukhari : Kitab Haji : No : 1729 
Sahih Muslim : Kitab Haji : No : 2391 
Sunan Ibnu Majah : Kitab Musnad Bani Hasyim : No : 2891 dan,3062 
Ahmad : Musnad Bani Hasyim : 1833, 3062

Menurut ulama Hanafi dan Hambali bahwa wanita tidak boleh keluar melaksanakan haji kecuali bersama suami atau mahramnya.

Menurut ulama Syafi'i wanita disyaratkan pergi bersama suami atau mahram atau wanita-wanita tsiqah (terpercaya). Dalam satu pendapat (dalam madzhab Syafi'i), cukup bersama satu orang wanita tsiqah.

Menurut ulama Maliki, wanita disyaratkan pergi bersama teman wanita yang dipercaya apabila jarak dari tempatnya ke Mekah ditempuh dalam satu hari satu malam.  
Apabila wanita menyalahi syarat ini dan melaksanakan haji tanpa ditemani suami atau mahram, maka hajinya sah tetapi ia berdosa. Semua ini berlaku untuk haji wajib dan umrah wajib. 

Meminta Izin Suami Untuk Haji

Seorang suami tidak berhak melarang isterinya melaksanakan haji wajib atau haji nazar. Adapun untuk haji sunat, maka ia berhak melarangnya. Biaya perjalanan mahram ditanggung oleh wanita yang ingin ditemani jika suami atau mahram tersebut tidak wajib mengadakan perjalanan haji.

Wanita haid atau nifas, boleh mengerjakan semua ibadah haji, kecuali tawaf di Baitullah. Hal ini berdasarkan hadis Aisyah ra. ia berkata, "Aku tiba di Mekah dan aku dalam keadaan haid. Aku tidak tawaf di Baitullah dan tidak sai di Safa dan Marwah." Aisyah mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Kerjakanlah sebagaimana yang dikerjakan oleh orang yang sedang haji selain tawaf di Baitullah sampai engkau bersuci."

Apabila seorang wanita haid atau nifas sebelum tawaf qudum, tawaf qudumnya gugur dan ia tidak dikenai apa-apa. Apabila haid atau nifas sebelum tawaf ifadah, maka ia tetap dalam keadaan berihram hingga ia bersuci kemudian tawaf ifadah. Apabila ia tawaf dalam keadaan haid, maka tidak sah tawafnya menurut pendapat ulama Maliki, Syafi'i dan Hambali.

Ulama Hanafi berpendapat bahwa tawafnya sah tetapi makruh tahrimi (makruh mendekati haram), ia berdosa dan wajib membayar badanah (dam seekor unta atau lembu). 

Apabila seorang wanita haid atau nifas setelah tawaf ifadah, maka kewajiban tawaf wada' atasnya gugur.  



Post related
  • Fiqih Haji 5 : Pengantar Fiqih Haji, Haji Badal
  • Fiqih Haji 4 : Pengantar Fiqih Haji, Haji Ifrad
  • Fiqih Haji 3 : Pengantar Fiqih Haji, Haji Qiran
  • Fiqih Haji 2 : Pengantar Fiqih Haji, Haji Tamattu'
  • USB Flash Disk Password Protection
    Tags
    Fiqih HajiPengantar Fiqih HajiHajiHaji Wanita
    Social Media

    Posting komentar Anda :
    Name :
    Email :
    Website :
    Comment :
    Validation word :


     


    Last Posted
    Content-Image
    Dibaca : 5
    Bila nada membuat kesalahan, hanya tiga hal yang harus anda lakukan: mengakuinya, belajar darinya dan jangan mengulanginya.

  • Tafsir Al-'Usyr Al-Akhir 14 ...
  • Quote Today : Harta, Kesenangan ...
  • Note : Kesempurnaan Dalam ...
  • Quote Today : Jadikan Tahun 2018 ...
  • Quote Today : Belantara Dunia ...
  • Mutiara Tauhid
    Risalah Mutiara Tauhid
    Hit’s Today
    Dibaca :

    Dibaca :

    Dibaca :