SYAARAR.COM

Bagaimana Kita Tahu Quran Tidak Berubah?
Ditulis oleh : Syamsul Arham
Tanggal : 10 Juni 2015, 18:03:3
Dibaca : 89107

Al-Qur'an

Kebangkitan Eropa dari Abad Kegelapan dan pencerehana intelektual dari tahun 1600-an sampai 1800-an adalah merupakan salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam sejarah modern. Al-Qur'an dibawa ke Eropa untuk dipelajari sebagai ilmu pengetahuan empiris, untuk dikritisi dan perbincangan intelektual.  Kebanyakan diambil dari sejarah intelektual dunia Muslim yang dimulai dari masuknya Islam ke Eropa seperti Spanyol, Sisilia dan Eropa Tenggara.

Perkembangan karya intelektual bertepatan dengan masa imperialisme dan kelonialisme Eropa keseluruh dunia Islam. Negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis dan Rusia secara perlahan menaklukkan dunia Islam dan membaginya dalam beberap negara kecil. Dengan demikian pencerahan intelektual, ditambah dengan imperialisme atas dunia Islam, menyebabkan orang Eropa melihatnya sebagai studi kritis tentang Islam termasuk sejarah, keyakinan dan ajaran. Gerakan ini dikenal sebagai Orientalisme. Salah satu kekurangan terbesar dari Orientalisme adalah analisis sejarah Islam pada istilah Eropa dengan membuang karya-karya kaademis dan pemikiran Islam yang besar semenjak jaman Nabi Muhammad saw.

Salah satu aspek yang peling berbahaya dari Orientalis adalah studi Eropa tentang asal-usul Al-Qur'an. Karena itu diterima dengan baik oleh kalangan akademik yang mempelajari Taurat-nya orang Jahudi dan Perjanjian Bari-nya orang Kristen yang telah berubah selama berabad-abad, akademis Eropa keliru dan percaya bahwa Al-Qur'an juga telah mengalami perubahan yang sama.

Upaya mereka untuk membuktikan keyakinan mereka bahwa Al-Qur'an telah dirubah dan tidak otentik lagi, menyebabkan studi dan karya mereka dipertanyakan. Mereka kritis dalam menganalisa asal-usul Al-Qur'an sampai kepada masa kompilasi untuk dijadikan Kitab, untuk memahami mengapa ummat Islam menerima salinan Al-Qur'an yang meteka miliki di rumah-rumah mereka menjadi kata-kata yang sama persis dengan yangd iwahyukan kepada Nabi Muhammad saw pada masa tahun 600-an.

 

Al-Qur'an Terpelihara

Allah swt. telah berjanji untuk melindungi Al-Qur'an dari perubahan dan kesalahan sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur'an:

 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (AL-HIJR 15:9)

 

Bagi ummat Islam, ayat ini merupakan janji dari Allah swt.sudah cukup mMembuktikan bahwa Dia akan melindungi Al-Qur'an dari kesalahan dan perubahan dari waktu-ke-waktu. Bagi mereka yang tidak menerima keaslian Al-Qur'an menganggap bahwa ayat ini tidak bisa dijadikan bukti akan keaslian Al-Qur'an. Dari sinilah diskusi akademik dimulai.

 

Narasi dari Quran untuk para sahabat

Wahyu Al-Qur'an bukanlah peristiwa yang terosilasi dalam waktu. Itu adalah wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad saw. Secara kontiniu sepanjang 23 tahun kenabiannya di Makkah dan Madinah. Nabi saw. menunjuk banyak sahabat untuk menjadi juru tulisnya, menulis ayat-ayat terbaru segera setelah Nabi saw. menerima wahyu. Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Zaid bin Tsabit beberapa diantara yang memiliki tugas ini. Untuk sebahagian besar, ayat-ayat ditulis pada potonga-potongan tulang, kulit atau perkamen. Penting untuk dicatat bahwa Nabi saw. Akan memiliki ahli-ahli dalam membaca kembali ayat-ayat yang disampaikan kepadanya setelah menuliskannya sehingga ia bisa mengoreksi dan memastikan tidak ada kesalahan.

Untuk lebih memastikan bahwa tidak ada kesalahan, Nabi saw. Memerintahkan bahwa tidak ada catatan apap pun, bahkan tidak ucapan atau kata-kata Nabi, Hadist pada lembar-lembar Al-Qur'an.

Mengenai lembaran AL-Qur'am yang ditulis, ia menyatakan: "dan siapa pun yang telah menulis apapun dariku selain Al-Qur'an harus menghapusnya". Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada kata-kata tambahan yang bisa dianggap sebagai bagian dari teks Al-Qur'an.

Hal ini penting untuk dipahami, bagaimanapun, bahwa menulis turunnya Al-Qur'an itu bukan cara utama bahwa AL-Qur'an tercatat. Orang-orang arab pada masa itu adalah masyarakat lisan. Sangat sedikit orang yang bisa membaca dan menulis, sehingga penekanan terbesar ditempatkan pada kemampuan mengafal puisi-puisi panjang, huruf dan pesan lainnya. Sebelum Islam, Makkah adalah pusat kebudayaan Arab. Festival tahunan yang diselenggarakan setiap tahun yang diikuti para penyair-penyair terbaik dari seluruh Semenanjung Arab. Peserta dengan senang akan menghafalkan kata-kata yang tepat dari penyair-penyair favorit mereka dari tahun dan dekade berlalu.

Dengan demikian, dalam masyarakat lisan, sebagian besar para sahabat belajar mencatat Al-Qur'an dengan menghafal.

Al-Qur'an tidak dihafal oleh para sahabat terpilih saja, tapi oleh ratusan dan bahkan ribuan orang menghafal. Dengan demikian Al-Qur'an dengan cepat menyebar selama kehidupan Nabi saw. Keseluruh pelosok Arab. Mereka mendengar ayat-ayat Al-Qur'an dan menyebarkannya kepada suku-suku lain yang juga dengan menghafalkannya. Dengan cara ini, Al-Qur'an mencapai status sastra yang dikenal di kalangan orang-orang Arab sebagai sastra mutawatir. Mutawatir berarti apa yang disampaikan dan disebar luaskan kepada begitu banyak orang dan kelompok yang berbeda, yang kesemuanya memilki kata-kata yang sama persis, yang tidak dapat dibayangkan bahwa ada satu kelompok atau orang yang akan memalsukannya. Beberapa ucapan Nabi saw. Atau hadist dikenal sebagai hadist mutawatir, akan tetapi seluruh Al-Qur'an itu sendiri diterima sebagai mutawatir, karena tersebar luas dimasa kehidupan Nabi saw. melalui cara-cara lisan.

 

Koleksi Setelah Kematian Nabi saw.

Al-Qur'an diajarkan kepada banyak para sahabat Nabi saw. Al-Qur'an yang sudah menyebar keseluruh pelosok menjadi tidak mungkin bagi orang untuk merubah tanpa ummat Muslim lainnya mengoreksi mereka. Selain itu, selama kehidupan Nabi saw. Malaikat Jibril selalu membacakan seluruh Al-Qur'an kepada Nabi saw. Sekali setahun selama bulan Ramadhan. Setelah Al-Qur'an lengkap turun pada masa akhir kehidupan Nabi saw. Banyak para sahabat yang sudah menerima Al-Qur'an dengan sepenuh hati.

Selama pemerintahan khalifah pertama, kebutuhan untuk mengkompilasi semua ayat-ayat Al-Qur'an dan bentuk Kitab mulai muncul. Maka untuk mengantisipasi dengan menurunnya jumlah penghafal Al-Qur'an setelah kematian Nabi saw. Yang dikhawatirkan bahwa ummat Islam akan kehilangan Al-Qur'an selamanya, maka khalifah Abu Bakar yang memerintah pada tahun 632-634, memerintahkan komite penyelenggara yang dibawah pimpinan Zaid bin Tsabit, untuk mengumpulkan semua potongan-potongan Al-Qur'an yang tersebar di seluruh komunitas Muslim. Rencanya adalah untuk mengumpulkan semuanya untuk dijadikan buku utama yang bisa dipertahankan sekalipun para penghafal Al-Qur'an mulai berkurang.

Zaid sangat teliti dari siapa dia menerima ayat-ayat Al-Qur'an. Karena tanggung jawab besar, untuk menghindari secara tidak sengaja mengubah kata-kata Al-Qur'an, ia hanya menerima potongan perkamen Al-Qur'an dari mereka yang menulisnya  di hadapan Nabi SAW dan harus ada dua saksi yang dapat membuktikan. Kemudian fragmen yang ia kumpulkan dibandingkan dengan Al-Qur'an hafal sendiri, memastikan bahwa tidak ada perbedaan antara versi tertulis dan lisan.

Saat tugas selesai, sebuah buku diselesaikan dari semua ayat disusun dan disajikan kepada Abu Bakar, yang dijamin dalam arsip negara di Madinah. Hal ini dapat diasumsikan dengan pasti bahwa salinan yang ada pada Abu Bakar telah cocok persis kata-kata dengan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. yang telah disampaikan kepada banyak penghafal Al- Qur'an di Madinah, ditambah dengan potongan perkamen yang tercatat.

 

Mus'haf Usman

Selama kekhalifahan Usman, 644-656, masalah baru mulai muncil di komunitas Muslim, yaitu cara pengucapan. Selama kehidupan Nabi saw, Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh dialek yang berbeda-beda (qira'as). Dialek berbeda sedikit dengan pengucapan mereka pada kata-kata tertentu, namun arti keseluruhan tidak berubah. Ketujuh dialek bukanlah sebuah inovasi untuk meng-korupsi Al-Qur'an di-masa-masa kemudian, seperti yang pernah disebutkan oleh Nabi saw. sendiri, dan ada banyak perkataan beliau yang menggambarkan keaslian ketujuh dialek yang tercatat dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim. Alasan untuk menyatukan dialek yang berbeda adalah untuk memudahkan berbagai suku di sekitar Arab untuk belajar dan memahaminya.

Selama masa pemerintahan Usman, orang yang ada diluar Arab seperti Persia, Azebaijan, Armenia dan Afrika Utara mulai mempelajari Al-Qur'an. Masalah muncul bagi mereka ketika pengucapan kata-kata, karena mereka akan mendengar orang-orang Arab yang berbeda cara pengucapan ayat-ayat yang sama. Meskipun cara pengucapan yang berbeda, tapi disahkan oleh Nabi saw. dan tidak salah dalam cara membaca dan menyampaikannya, tapi membuat bingung di kalangan ummat Islam yang bukan keturunan Arab.

Usman menjawab dengan komite bersama, menyeragamkan dialek dengan dialek suku Quraisy (suku Nabi saw.), dan menyebarkan dialek Quraisy ke seluruh kerajaan. Tim bentukan Usman, termasuk Zaid bin Tsabit, menyusun Al-Qur'an dalam satu buku yang dikenal sebagai mus'haf yang berarti dari kata halaman (sahifa), berdasarkan naskah dari tangan pertama bersama dengan para penghafal dan pembaca Qur'an terbaik di Madinah. Mus'haf ini kemudian dibandingkan dengan salinan yang ada di Abu Bakar, untuk memastikan tidak ada perbedaan, Usman kemudian memerintahkan sejumlah salinan mus'haf yang akan dibuat untuk dikirimkan ke seluruh kekaisaran bersama dengan penghafal Al-Qur'an atau para pembaca Al-Qur'an yang akan mengajarkannya kepada masyarakat setempat.

Karena Al-Qur'an disusun dan diproduksid secara teratur, sehingga tidak ada lagi alasan bagi perorangan untuk menyimpan fragmen yang mereka miliki. Sehingga Usman memerintahkan untuk menghancurkan semua fragmen yang ada untuk menghindari kebingunan ummat dimasa mendatang. Meskipun para orientalis menggunakan insiden ini untuk mencoba untuk membuktikan klaim keliru bahwa ada beberapa perbedaan yang oleh Usman dihilangkan, itu merupakan cara yang sederhana untuk menyimpulkan itu. Seluruh masyarakat di Madinah, termasuk banyak sahabat terkemuka seperti Ali bin Abi Thalib, rela pergi untuk menyebarkan mus'haf ini, dan tidak ada keberatan yang disuarakannya. Jika Usman telah menghilangkan perbedaan yang sah, tentu orang-orang Madinah akan protes dan keberatan atau mungkin memberontak terhadap Usman. Sebaliknya, mus'haf Usman diterima oleh seluruh masyarakat sebagai dokumen yang otentik dan benar.

 

Script Quran

Keluhan lain dari para Orientalis adalah membuat tuduhan baru bahwa Mus'haf Usman menambahkan tanda diakritik  (titik-titik yang dibedakan huruf dan tanda vokal). Ayat-ayat aslinya hanya ditulis dengan huruf Arab aslinya ayaitu huruf Arab gundul. Misalnya, kata  قيل (katanya), tanpa tanda diakritik akan terlihat seperti ini: ڡٮل. Menurut klaim orientalis, cara membacanya dapat dibaca sebagai فيل (gajah), قبل (sebelum), atau قبل (dia mencium). Jelas, membaca kata-kata yang berbeda tersebut akan memilki perbedaan yang besar. Orientalis, seperti profesor Australia diawal 1900-an, Arthur Jeffery, mengklaim bahwa salinan Al-Qur'an versi Usman, dengan tanpa diakritik memungkinkan untuk dibaca dengan varian dan makna yang berbeda, tapi oleh mus'haf Usman tidak, sehingga mengklaim Mus'haf Usman sudah tidak otentik.

Ada banyak kekurangan dalam argumen ini:

Pertama, fakta bahwa Utsman mengirim penghafal Al-Qur'an dengan salinan mus'haf adalah hal sangat penting. Kita harus ingat bahwa cara utama Al-Qur'an dipelihara adalah secara lisan, dan salinan tertulis hanya dimaksudkan untuk menjadi suplemen untuk pembacaan lisan. Jika seseorang telah memiliki sebuah hafalan ayat, ayat-ayat dalam salinan mus'haf Utsman disajikan hanya sebagai bantuan visual saat membaca. Untuk menggambarkan contoh ini, kita dapat melihat tulisan berikut pada bagian dalam Kubah Batu, di Yerusalem. Bangunan ini dibangun pada akhir 600-an dan fitur salah satu prasasti kaligrafi tertua dalam bahasa Arab di bagian dalam bangunan, yang ditulis dalam huruf Kufi sama dengan mus'haf Utsman:

 

Dome-of-the-Rock

Untuk seseorang yang akrab dengan bahasa Arab dan beberapa ungkapan umum dasar mengenai supremasi Allah, mudah untuk membuat apa ini bagian dari prasasti mengatakan:

 

بسم الله الرحمن الرحيم لا اله الا الله وحده لا

شريك له له الملك و له الحمد يحي و يميت و هو

على كل شئ قدير محمد عبد الله و رسوله

 

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.

Tidak ada Tuhan selain Allah.

Dia adalah Satu.

Dia ada tidak ada serupa dengan-Nya.

Kepada-Nya-lah meminta dan kepada-Nya-lah menyembah.

Dia menghidupkan dan Ia menurunkan kematian; dan Dia memiliki

Kuasa atas segala sesuatu. Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya

 

Dengan cara yang sama seperti bagian ini, mus'haf Utsman dapat dengan mudah dibaca oleh seseorang yang akrab dengan ayat-ayat dan tulisan Arab. Jadi klaim bahwa kurangnya tanda diakritik tidak menjadi alasan untuk mengetahui apa kata asli.

 

 Masalah kedua dengan klaim orientalis seperti Jeffery berkaitan dengan membaca yang salah karena kurangnya tanda diakritik. Mari kita asumsikan sejenak bahwa tidak ada penghafal untuk menjelaskan bagaimana ayat harus dibaca dari mus'haf Utman dan seseorang membaca di kata ڡٮل. Seperti disebutkan sebelumnya, ini bisa menjadi sejumlah kata berbeda berdasarkan di mana tanda diakritik ditempatkan. Namun, dari petunjuk konteks, pembaca terdidik dapat dengan mudah mencari tahu apa kata itu seharusnya. Hal ini hampir tidak mungkin bagi pembaca untuk menggantikan kata "sebelum" dengan "gajah". Sementara dalam beberapa kasus pembaca mungkin sengaja mengganti satu kata dengan yang lain yang masih masuk akal, kesempatan ini jarang terjadi dengan cara bahasa Arab sudah diatur.

 

Seiring waktu, selama tahun 700-an dan 800-an, tanda diakritik mulai ditambahkan ke mus'hafs seluruh dunia Muslim. Hal ini dilakukan dengan bergesernyabudaya lisan ke budaya tulisan, untuk lebih memudahkan membaca dari salinan Quran, dan untuk menghilangkan kesalahan oleh orang-orang yang tidak tahu ayat-ayat yang mereka baca. Hari ini, hampir semua mus'hafs modern termasuk tanda diakritik pada huruf kerangka bersama dengan tanda vokal untuk membuat membaca lebih mudah.

 

Isnad Sistem

Salah satu masalah yang paling mendesak di mata umat Islam pada awal adalah perlindungan kesucian Al-Qur'an. Berkali-kali sepanjang Al-Qur'an dan ucapan Nabi saw, umat Islam diingatkan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen berusaha merusak teks-teks kitab suci mereka dari waktu ke waktu, yang sekarang tidak dapat diambil sebagai yang otentik. Akibatnya, umat Islam pada awal mengembangkan sistem untuk memastikan bahwa Al-Qur'an dan hadist tidak akan diubah oleh kesalahan manusia, baik disengaja atau tidak disengaja.

Sistem yang dikembangkan dikenal sebagai sistem isnad. Sistem isnad menekankan sanad. Misalnya, dalam penyusunan hadits Bukhari, setiap hadits didahului oleh rantai perawi yang berlangsung dari Bukhari kembali ke Nabi Muhammad SAW. Rantai ini dikenal sebagai sanad. Untuk memastikan bahwa hadits itu asli, masing-masing narator dalam rantai harus diketahui dapat diandalkan, memiliki memori yang baik, dapat dipercaya, dan memiliki kualitas yang benar lainnya.

Masyarakat Islam awal menekankan pada sistem ini untuk menentukan keaslian hadits serta ayat-ayat dari Al-Qur'an. Jika ada orang yang mengklaim telah memiliki sebuah ayat yang tidak ada dalam teks kanonik mus'haf Utsman, ulama akan melihat rantai yang orang mengaku untuk kembali ke Nabi SAW dan dari situ ditentukan keotentikannya. Jelas, siapa pun yang mengklaim ayat Al-Qur'an tidak akan dapat terhubung ke Nabi saw..

Sistem isnad bekerja untuk melestarikan kesucian Quran serta hadits, karena mencegah orang dari membuat klaim yang keliru yang kemudian dapat diterima sebagai fakta. Melalui fokus pada keandalan sanad itu, keandalan ayat-ayat atau hadits sendiri bisa dipastikan. Zaid bin Tsabit menggunakan sistem proto-isnad dalam karyanya menyusun Al-Qur'an selama kekhalifahan Abu Bakar, dan pertumbuhan sistem isnad dalam beberapa dekade berikutnya membantu melindungi teks dari yang diubah dengan cara apapun.

 

 

Kesimpulan

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah studi sepenuhnya lengkap tentang sejarah Al-Qur'an. Studi dari ratusan orang sepanjang sejarah Islam untuk memastikan kesucian Al-Qur'an tidak dapat digantikan ke beberapa ribu kata. Namun, jelas melalui isu pengantar disebutkan di sini bahwa teks Al-Quran jelas tidak diubah dari waktu Muhammad SAW hingga saat ini. Fakta bahwa itu begitu luas selama hidupnya membantu memastikan bahwa setiap upaya jahat untuk mengubah kata-kata kitab suci akan sia-sia. Kompilasi yang teliti oleh Abu Bakar dan Utsman sebagai sistem cadangan jika para penghafal Al-Qur'an mulai menghilang. Akhirnya, sistem isnad membantu memastikan klaim untuk menambah atau menghapus dari Quran tidak bisa melewati proses ilmiah yang merupakan pusat pelestarian Islam itu sendiri.

Kesimpulannya, klaim orientalis bahwa Al-Qur'an telah berubah sebagaimana Alkitab dan Taurat miliki jelas menyesatkan. Tidak ada bukti bahwa Al-Qur'an telah berubah, dan mencoba untuk membuktikan bahwa mereka telah didasarkan pada pemahaman dasar dan tidak berpendidikan tentang sejarah teks Al-Qur'an.

 

Catatan Kaki:

1 - Al-Suli, Adab al-Kuttab

2 - Sahih Muslim, al-Zuhd:72

3 - Ibn Hajar, Fath al-Bari

4 - http://www.islamic-awareness.org/History/Islam/Inscriptions/DoTR.html

 

Bibliography:

Al-Azami, M.M. The History of the Quranic Text: From Revelation to Compilation. Leicester: UK Islamic Academy, 2003. Print.

Ochsenwald, William, and Sydney Fisher. The Middle East: A History. 6th. New York: McGraw-Hill, 2003. Print.

 

 

Source :  Lost Islamic History



Post related
  • Tan Guan Neo Membesarkan Seorang Cucunya Yang Muslim
  • Renovasi Pintu Kabbah
  • Hafal Al-Qur'an Melalui Tradisi Turun Temurun
  • Raja Arab Saudi Meninggalkan Acara Kenegaraan Untuk Shalat Ashar
  • Dump Kesehatan dan Kecantikkan
    Tags
    KhasanahAl-Qur'anSejarah Al-Qur'an
    Social Media

    Posting komentar Anda :
    Name :
    Email :
    Website :
    Comment :
    Validation word :


     


    Mutiara Tauhid
    Mutiara Tauhid Bandung
    Comments
    Content-Image
    Dikomentari oleh : Syamsul Arham
    Dibaca : 2111
    Judul lagunya Pujilah Allah. Linknya ada di https://www.youtube.com/watch?v=1W7vpDBBEAk

    Content-Image
    Dikomentari oleh : Yusuf
    Dibaca : 2111
    Itu kutipan lagu dari sakha judulnya apa? Sy suka lagu itu krna dl.srg dngr d radio. Tp skrg gk pernah dngr lagi. Nyari di youtube jg gk ada pdhl ingim pinya lagunya.

    Content-Image
    Dikomentari oleh : Syamsul Arham
    Dibaca : 488
    Catatan tambahan: Pahala yang akan tetap mengalir: 1. Do'a Anak Yang Sholeh 2. Shodaqoh Jariyah 3. Ilmu Yang Bermanfaat #BahanRenunganKalbu


    Hit’s Today
    Content-Image
    Dibaca : 1029
    Allah subhana wa ta'ala tidak membutuhkan makhluk-Nya sekalipun itu yang kafir atau yang beriman, ...

    Content-Image
    Dibaca : 408
    Saya mengatakan kepadanya jika berhala itu tidak bisa melindungi dirinya maka apa gunanya mencari ...

    Content-Image
    Dibaca : 63
    Dinamai surat Al-Hasyr (pengusiran) diambil dari perkataan Al-Hasyr yang terdapat pada ayat 2 surat ...