Category : Religious > Kolom
Author ; Syamsul Arham
Date : 10 Juni 2016, 16:29:05
Hits : 7211

Buya Gusrizal Gazahar

Mengaburkan Dengan "Menyejukkan"

Mulai dari akademisi yang baru tamat sampai yang sudah kehabisan gelar dan pangkat ditambah para penguasa, pimpinan lembaga dan lainnya sering berkata bahwa ulama itu mestilah "menyejukkan".

Ketika saya tanya apa yang dimaksud dengan "menyejukkan" itu, tak seorangpun yang tahu. Jangankan batasan definisi bahkan kriterianya saja tak ada yang jelas. Masing-masing akan membuat ukuran menurut sudut pandang seleranya.

Anehnya, walaupun kalimat itu demikian adanya, bagaikan "kayu bacabang" namun tak sedikit yang ingin "mahantakkan".

Sebenarnya kalaupun ingin memakai istilah, alangkah baik kalau dipakai saja kalimat "bilhikmah" yang telah diberikan batasan oleh para ulama.

Hanya saja kalau kalimat "bilhikmah" yang dipakai tentu saja hukum, realita dan maqashid tak bisa dipisah-pisahkan. Ini barangkali yang membuat mereka takut memakai istilah qur'ani tersebut karena yang dimaksud tak lebih dari membungkam ulama agar tak bersuara lantang mengingatkan umat akan bahaya yang sedang mengancam.

Akhirnya bila sikap ulama tak sesuai dengan selera pengguna kata "menyejukkan" tadi maka bergulirlah kata "provokator", "suuzzhann", "emosional", "temperamental" dan semisalnya sebagai label pelecehan.

الله المستعان على ما يدبرون

 

Penulis : Buya Gusrizal Gazahar

 

Post related
  • Kolom : Ahli Tafsir
  • Kolom : Siapa Menanam, Dia Menuai
  • Kolom : Di Persimpangan
  • Kolom : Bukan Hanya Haram Tapi Juga Pelecehan
  • Social Media