Category : Religious > Kolom
Author ; Syamsul Arham
Date : 24 Juni 2016, 11:24:36
Hits : 6323

Buya Gusrizal Gazahar

"Terpenjara Dalam Neraka Dunia"

Salah satu perbuatan koruptor adalah tidak adil dalam menimbang bila terkait dengan hak orang lain namun bila timbangan ditegakkan untuk menentukan haknya, ia berpantang kurang walau secuilpun kalau perlu berlebih dari yg sewajarnya.

Dalam bahasa minang sering kita mendengar kalimat "mangawik gadang ka awak" dan istilah "cadiek buruak". 
Dua sentilan itu sepertinya pas untuk menggambarkan karakter tersebut.
Dalam Al-Qur'an, Allah swt mengancam para pelaku perbuatan itu dengan "kecelakaan besar":

 

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang". (QS. al-Muthaffifin 83:1)

 

Allah swt juga menjelaskan secara tegas perilaku mereka dalam ayat berikutnya:

 

الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

( 2 ) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,

وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

( 3 ) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi". (QS. al-Muthaffifin 83:2-3)

 

Yang menarik sekali untuk difahami dari ayat-ayat berikutnya adalah catatan para pelaku kejahatan ini berada dalam "سجين" yang diartikan dengan tempat yang sempit dan terkurung. (Tafsir al-Qurthubiy)

Allah swt berfirman:

 

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

"Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin". (QS. al-Muthaffifin 83:7)

Kemudian juga sangat perlu untuk diperhatikan bagaimana rapinya catatan tersebut sehingga tak akan bisa luput atau terlupakan dari perhatian dan perhitungan bagaikan file yang mudah untuk dibuka karena diberi kode yang mudah untuk diakses atau ditelusuri sebagaimana dijelaskan oleh Allah swt pada ayat selanjutnya:

 

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ

"( 8 ) Tahukah kamu apakah sijjin itu ?

 

كِتَابٌ مَرْقُومٌ

( 9 ) (Ialah) kitab yang bertulis". (QS. al-Muthaffifin 83:8-9)

 

Bila demikian adanya, maka hendaknya para koruptor mesti berfikir berulangkali sebelum jatuh ke dalam kejahatan ini karena dia tak akan bisa lolos walaupun dengan tindakan manipulatif apapun.

Kalau kita baca penafsiran Ibnu 'Asyur tentang kata سجين itu, beliau memandang itu adalah kiasan (majaz) yang menunjukkan keberadaan pelaku kriminal itu yaitu dalam "penjara neraka".

Bila dihubungkan peringatan ayat-ayat itu dengan realita yang ada, cobalah perhatikan !
Tidak sedikit para koruptor itu yang terpenjara dengan catatan masa lalunya. Ia disandera oleh file-file kejahatannya itu. Hidup dengan penuh kecemasan akan terbongkarnya lembaran yang berisi catatan kejahatannya.

Posisi yang tinggi serta karier yang melambung tetap saja tidak memberikan rasa nyaman karena setiap saat, nomor file kejahatannya bisa saja terbuka atau sengaja dibuka oleh orang lain.
Apakah yang akan menemani kehidupan orang itu selain kegelisahan walaupun bergelimang kekayaan.

Kalaupun ada di antara mereka ada yang tidak mengimani keberadaan akhirat namun kebenarannya tak akan pupus dengan kekufuran mereka. 
Di dunia mereka telah merasakan permulaannya yaitu "masa lalu yang menghantui".
Bukankah itu yang disebut dengan "neraka dunia" ???

Jadi rupanya para penjahat yang mengurangi hak orang lain dan memperkuda keadilan hanya buat dirinya, akan terpenjara dalam "neraka dunia" sebelum memasuki "neraka akhirat".

Na'udzu billahi min dzalik.

Wallahu a'lam.

 

Penulis " Buya Gusrizal Gazahar (Ketua Majelis Ulama Sumatera Barat)

Post related
  • Kolom : Rumah Makan Tak Usah Tutup di Bulan Ramadhan, Setuju !!! Asal....
  • Kolom : Siapa Lagi?
  • Kolom : Mengaburkan Dengan "Menyejukkan"
  • Kolom : Ahli Tafsir
  • Social Media