SYAARAR.COM

Kolom : Natal Bersama Dan Mengucapkan Selamat Natal hukumnya "HARAM" (1)
Ditulis oleh : Syamsul Arham
Tanggal : 16 Desember 2016, 16:59:3
Dibaca : 671

Buya Gusrizal Gazahar

Bantulah memberitahukan ini kepada siapa saja agar terlindung umat kita dari pengrusakan 'aqidah!

Bagi siapa yang membantu menyebarkan, saya ucapkan jazaka/killahu khairal jaza'.

Ini ada tulisan lama :

Natal Bersama Dan Mengucapkan Selamat Natal hukumnya "HARAM", apakah ada Al-Qur'an melarangnya ?

Tidak sekali dua kali saya mendengarkan pernyataan berisi pertanyaan seperti ini dari orang-orang yang mengaku cendikiawan muslim. Inilah cara mereka yang sering mereka pergunakan untuk menyudutkan para ulama sehingga seolah-olah ulama berbicara dan berfatwa tanpa mempedulikan sumber utama ajaran Islam yaitu Al-Qur'an al-Karim.

Setelah itu, mereka juga telah menyiapkan berbagai label yang menyakitkan untuk para ulama yang tetap berpegang kepada fatwa keharaman natal bersama dan haramnya seorang muslim mengucapkan selamat natal.

Label itu mulai dari "itu kan penafsiran yang relatif", "itu pemahaman yang normatif", "itu adalah pandangan fundamentalis yang tidak bisa berfikir dinamis", "itu kan pandangan khawarij dan wahabiy", "itu kan fiqh yang tidak sesuai dengan kondisi yang pluralis", "itu kan tidak nasionalis" bahkan sampai kepada label, "itu lah pemikiran terorist".

Terserahlah apa pun label yang tuan-tuan siapkan untuk jawaban siangkat yang saya tulis ini, saya tetap akan mengatakan bahwa:

larangan natal bersama dan ikut memeriahkannya dengan berbagai cara termasuk mengucapkan selAmat natal, telah dilarang oleh Allah swt dalam Al-Qur'an al-Karim. Karena itu, hukumnya adalah HARAM.

Perhatikan firman Allah swt:


وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا [الفرقان : 72]
"Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lewat (saja) dalam keadaan menjaga kehormatan dirinya". (QS. al-Furqan 25:72)

 

Kalimat لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ dalam ayat tersebut sering diterjemahkan dengan tidak melakukan kesaksian palsu.

Apakah terjemahan itu bisa dijatakan tepat dari sudut pandang para ahli tafsir ???

Ternyata terjemahan itu hanyalah mengambil satu pemahaman yang tidak mencakup seluruh makna الزُّورَ dalam bahasa arab ketika disesuaikan dengan redaksi ayat tersebut yang merupakan sifat dari hamba-hamba Al-Rahman (Allah swt) pada ayat sebelumnya (ayat 63 surat al-Furqan).

Kalau kita perhatikan lagi kata يَشْهَدُونَ yang merupakan kata kerja aktif yang membutuh objek (maf'ul), ia langsung bersambung dengan objeknya yaitu kata الزُّورَ maka terjemahan "memberikan kesaksian palsu" bukan lah terjemahan yang tepat.

Karena kata kerja يشهد adalah kata aktif yang ada kalanya menggunakan huruf jar "bi" dan adakalanya langsung.

Bila kata يشهد dengan huruf "bi" (بـ) maka baru dia bermakna "memberitakan" namun bila kata يشهد langsung bersambung dengan objeknya tanpa huruf "bi" (بـ) maka dia lebih kuat berarti "menyaksikan atau hadir".

Sedangkan menterjemahkan kata الزُّورَ dengan sebatas palsu dalam makna berita adalah menyempitkan perngertian ayat dan mengkhususkannya tanpa ada dalil.

Kalau diperhatikan tafsir para ulama, kata الزُّورَ itu memiliki banyak pengertian sebagaimana yang dipaparkan oleh al-Imam al-Thabariy dalam tafsir beliau.

Kata الزُّورَ bisa bermakna syirik, perkataan dusta, hari-hari perayaan orang-orang kafir, tempat-tempat kemaksiatan dan lain-lain.

Dari berbagai makna itu, tidak bisa mengkhususkan maknanya hanya pada "berita palsu" saja.

Ini lah yang disampaikan oleh al-Imam al-Thabariy dalam tafsir beliau:

فإذا كان ذلك كذلك, فأولى الأقوال بالصواب في تأويله أن يقال: والذين لا يشهدون شيئا من الباطل لا شركا, ولا غناء, ولا كذبا ولا غيره, وكلّ ما لزمه اسم الزور, لأن الله عمّ في وصفه إياهم أنهم لا يشهدون الزور, فلا ينبغي أن يخص من ذلك شيء إلا بحجة يجب التسليم لها, من خبر أو عقل

"Apabila demikian adanya, maka pendapat yang lebih pantas dibenarkan dalam tafsirnya adalah: dan mereka (hamba-hamba Allah) adalah orang-orang yang tidak menyaksikan suatu kebatilan apapun, baik kesyirikan, nyanyian, kedustaan dan lainnya apa saja yang dijangkau oleh istilah الزور tersebut karena Allah telah mempergunakan kata umum dalam menjelaskan sifat mereka (hamba-hamba Allah) bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menyaksikan الزور. Maka tak patut mengkhususkan apapun dari keumuman itu kecuali dengan hujjah yang bisa diterima baik dalam bentuk khabar maupun nalar".

Jadi, tidak ada keraguan lagi bahwa larangan menghadiri perayaan kaum musyrikin telah ditunjukkan oleh firman Allah swt dalam surat Al-Furqan ayat 72 sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu 'Asyur dalam tafsir beliau (al-Tahrir wa al-Tanwir) karena perayaan natal dalam keyakinan kaum muslimin adalah kepalsuan bahkan merupakan cacian dan penghinaan terhadap Allah swt sebagaimana sabda Rasul saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا، وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَدٌ”( رواه البخاري و النسائي)

Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, telah Berfirman Allah ta’ala: Ibnu Adam (anak-keturunan Adam/umat manusia) telah mendustakanKu, dan mereka tidak berhak untuk itu, dan mereka mencaciKu padahal mereka tidak berhak untuk itu, adapun kedustaannya padaKu adalah perkataanya, “Dia tidak akan menciptakankan aku kembali sebagaimana Dia pertama kali menciptakanku (tidak dibangkitkan setelah mati)”, adapun cacian mereka kepadaku adalah ucapannya, “Allah telah memiliki seorang anak, (padahal) Aku adalah Ahad (Maha Esa) dan Tempat memohon segala sesuatu (al-shomad), Aku tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada satupun yang menyerupaiku". (HR. al-Bukhari dan an-Nasa-i)

(Bersambung)
Silahkan membaca status berikutnya :
Ayat Itu Menjatuhkan Tuan-tuan...
Seluruh Alasan....



Post related
  • FATWA MUI : HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM
  • Kolom : Indonesia Tanah Air Beta
  • Kolom : Bohong Itu Lingkaran Syaithan
  • Kolom : Mereka Lupa Siapa dan Apa yang Mereka Hadapi
  • Tags
    KolomBuya Gusrizal GazaharNatalNatal Bersama
    Social Media

    Posting komentar Anda :
    Name :
    Email :
    Website :
    Comment :
    Validation word :


     


    Mutiara Tauhid
    Comments
    Content-Image
    Dikomentari oleh : Syamsul Arham
    Dibaca : 2114
    Judul lagunya Pujilah Allah. Linknya ada di https://www.youtube.com/watch?v=1W7vpDBBEAk

    Content-Image
    Dikomentari oleh : Yusuf
    Dibaca : 2114
    Itu kutipan lagu dari sakha judulnya apa? Sy suka lagu itu krna dl.srg dngr d radio. Tp skrg gk pernah dngr lagi. Nyari di youtube jg gk ada pdhl ingim pinya lagunya.

    Content-Image
    Dikomentari oleh : Syamsul Arham
    Dibaca : 490
    Catatan tambahan: Pahala yang akan tetap mengalir: 1. Do'a Anak Yang Sholeh 2. Shodaqoh Jariyah 3. Ilmu Yang Bermanfaat #BahanRenunganKalbu


    Hit’s Today
    Content-Image
    Dibaca : 1010
    Allah subhana wa ta'ala tidak membutuhkan makhluk-Nya sekalipun itu yang kafir atau yang beriman, ...

    Content-Image
    Dibaca : 334
    Saya mengatakan kepadanya jika berhala itu tidak bisa melindungi dirinya maka apa gunanya mencari ...

    Content-Image
    Dibaca : 57
    Dinamai surat Al-Hasyr (pengusiran) diambil dari perkataan Al-Hasyr yang terdapat pada ayat 2 surat ...